Loading...
You are here:  Home  >  Organization  >  Berita Organisasi  >  Current Article

SAMBUTAN KETUA UMUM PENGURUS PUSAT PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS SARAF INDONESIA PADA PERTEMUAN ILMIAH NASIONAL STROKE

By   /  November 23, 2012  /  No Comments

    Print       Email

Semarang, 23 Nopember 2012

Yang terhormat Menteri Kesehatan Republik Indonesia yang diwakili oleh Dirjen Yanmed, Pejabat Pemerintah, Depkes Jateng, Rektor, Dekan. IDI, Para Guru Besar dan hadirin yang saya mulyakan Ass, wr, wb. Salam bahagia untuk kita semua. Alhamdulillah, saat ini kita bisa hadir dalam acara Pertemuan Ilmiah Nasinal Stroke, Neurointervensi, Neuroimaging dan Neuroepidemiology. Tema Pertemuan adalah: “Comprehensive Stroke Treatment. Based on Clinical Field Competencies and Evidence”. Suatu tema yang sungguh tepat, mengingat stroke masih menjadi problem utama kesehatan, tdk saja di Indonesia tapi juga dunia. Bahkan di Indonesia, hasil Riskesdas thn 2007 menunjukkan bahwa angka kematian stroke adalah no.1 melampaui angka kematian akibat infeksi. Stroke memang sangat istimewa karena sifatnya. Untuk spesialis saraf, stroke tak ubahnya sarapan pagi, itu saking banyaknya pasien. Kehebatan stroke tidak saja terletak pada angka kematiannya yang tinggi, tetapi juga penyebab kecatatan nomer wahid di dunia. Stroke juga mempererat hubungan Kemenkes dengan Perdossi. Beberapa hal yang telah dilakukan antara lain: (1) Mengikut sertakankan Perdossi dalam penyusunan Naskah Akademik Penanggulangan Penyakit Serebro-Kardiovascular di Indonesia dan (2) Kerjasama Balitbangkes dengan PP Perdossi dalam Pelaksanaan Survey Stroke Registry Nasional. Kita harapkan kerja sama ini bisa diperluas untuk ke penyakit2 lain seperti epilepsy dan dementia yang memiliki dampak cukup luas pula ke masyarakat Kerjasama Stroke Registry ini berlaku 5 tahun. Banyak keuntungan diperoleh dari kerjasama ini antara lain, tersedianya data klinis stroke komprehensif seluruh Indonesia yang berbasis rumah sakit. Yang mana hal ini bisa dikembangkan untuk melakukan penelitian klinis, penelitian epidemiologis maupun melakukan kebijakan kesehatan, baik ditingkat lokal maupun nasional..
Hadirin yang saya mulyakan Setiap penyakit termasuk stroke tentu memiliki Panduan Manajemen atau Guidelines (GL). GL Stroke merupakan hasil kerja dari Research Interdisciplinary Working Groups yang terdiri dari: (1) the American Heart Association; (2) American Stroke Association; (3) Stroke Council; (4) European Stroke Organization; (5) Cardiovascular Radiology and Intervention Council; (6) the Atherosclerotic Peripheral Vascular Disease. Semua itu adalah lembaga ilmiah terkemuka dan terpercaya. Dengan demikian GL stroke sangat dipercaya dan harus menjadi acuan para dokter dalam manajemen stroke. Penanganan Stroke diharapkan mengacu ke GL yang sudah ada evidence based nya, sehingga penting untuk mengetahui secara mendasar jenis stroke, saat awitan dan yang lebih penting mengetahui berapa waktu yang
dibutuhkan untuk menyelamatan sel saraf supaya tidak menimbulkan dampak kecacatan yang menetap. Sesuai macam, onset dan kondisi klinis, maka GL manajemen stroke terdiri atas: medical, interventional dan surgical treatment. Yang medical biasanya dikerjakan oleh TS Neurologi, intervensi oleh neuro-intervensi dan surgical oleh bedah saraf. Dibidang neurologi, yang paling kompeten melakukan tindakan intervensi adalah TS Neuro-intervensionist. Saat ini sudah ada 12 orang Neuro-intervensionist di Indonesia. Untuk tindakan intervensi stroke mereka sudah melakukan berbagai tindakan, baik diagnostic, terapi maupun prevensi. Tindakan itu antara lain berupa: Cerebral/spinal DSA; intra arterial thrombolisys; thrombektomi; Carotic/intra cranial/Vertebral stenting; Baloon angioplasty; Embolisasi AVM; Aneurisma coiling, dll Sesuai perkembangan jaman, penanganan intervensi stroke, tdk hanya dilakukan TS Neuro-intervensi, tapi juga ditangani oleh TS lain misalnya radiologi, bedah saraf, dll. Sebenarnya ini bukan persoalan, asal mereka bekerja secara professional berdasarkan guideline dan indikasi yang tepat.
Hadirin yang saya mulyakan Beberapa bulan ini dilaunching istilah Brain Washing (BW) atau Cuci Otak untuk terapi stroke. Hal itu dilakukan oleh seorang intervensionist non neurologi. Belakangan muncul lagi istilah baru Brain Spa (BS). Pemaparan BW atau BS sangat intensif dilakukan di media cetak, media elektronik maupun jaringan social spt FB dan semacamnya. Sengaja hal ini saya angkat pada sambutan ini karena 2 alasan. Pertama, momennya tepat, kita sedang melaksakan PIN stroke. Yang kedua, karena munculnya banyak pertanyaan dari anggota Perdossi. Menindak-lanjuti keingin tahuan anggota, PP Perdossi telah melayangkan surat resmi kepada Kolegium Radiologi Indonesia yang isinya mempertanyakan: tujuannya apakah untuk diagnostik, terapeutik atau preventive; bagaimana prosedurnya, guideline, indikasi medis, obat yang digunakan, hasil terapi, Evidence Base dan lainnya. Sayangnya surat tak berbalas.
Hadirin yang saya mulyakan Perdossi tidak bermaksud menghakimi tindakan medik seseorang dokter. Sementara yang bersangkutan bukan anggota Perdossi. Juga tidak berniat menilai apa tindakan itu salah atau benar. Apalagi kami tidak pernah mendengar langsung dari yang bersangkutan tentang bagaimana prosedur itu dilakukan. Jadi yang kami lakukan sekedar membuat analisis berdasarkan berita media yang ada.
Kesatu, tentang ISTILAH BW atau BS. Pengertian umum BW adalah suatu tindakan manipulatif tidak etis dilakukan pihak tertentu, dengan tujuan tertentu, dilakukan secara sistematis untuk melakukan control pikiran seseorang. Contohnya, adalah orang yang direkrut menjadi teroris. Dalam kamus ilmiah kedokteran tidak ada yang namanya BW. Jadi BW bukan suatu tindakan medis. Apalagi BS, istilah itu sama sekali tidak dikenal baik dalam kamus umum lebih-lebih dalam kamus ilmiah. Namun sebagai istilah marketing di media massa, keduanya sangat seksi. Selain mudah
diingat, juga merangsang orang mencobanya. Sejogyanya dalam mensosialisasikan tindakan medis di media, pakailah istilah kedokteran baku beserta keterangan yang diperlukan. Dengan demikian bisa dihindari kesalahan persepsi masyarakat.
Kedua, tentang TUJUAN BW atau BS. Menurut yang terungkap di media, tujuannya adalah menghancurkan clotting (bekuan darah) yang menyumbat pembuluh darah otak. Itu dilakukan dengan memasukan cairan tertentu kedalam pembuluh darah otak. Jadi tujuannya adalah terapi. Menurut GL, ada beberapa metode terapi intervensi untuk stroke iskemik. Itu antara lain: Thrombolysis intra arteri atau intra vena, lainnya adalah thrombectomy. Thrombolysis dilakukan dgn cara memasukan cairan penghancur clotting. Cairan itu bisa dimasukan via arteri atau vena, tergantung waktunya. Saat ini obat yang biasa digunakan adalah recombinant tPA dan urokinase. Obat rtPA ini semacam ensim yang dapat melarutkan clotting. Thrombectomy dilakukan dengan cara menyedot clotting dari arteri yang tersumbat.
Ketiga, tentang BATAS WAKTU prosedur. GL stroke sangat ketat mengatur batas waktu ini. Thrombolysis intra vena hanya boleh dilakukan dalam waktu 4,5 jam sejak saat seseorang terkena stroke, Thrombolysis intra arteri dalam 6 jam dan thrombectomy hanya boleh sampai 8 jam. Memasukan cairan apapun kedalam pembuluh darah otak, setelah batas waktu tersebut sangat dilarang. Selain tdk ada manfaatnya, juga ada bahaya besar mengancam. Yaitu. terjadinya perdarahan otak. Karena alasan itulah, di pusat2 pendidikan neurologi, prosedur diatas jarang dilakukan. Itu, karena sebagian besar pasien datang terlambat ke rumah sakit. Jadi tidak boleh sembarang waktu melakukan tindakan intervensi pada terapi stroke, apalagi bila stroke sudah lama terjadi.
Keempat, tentang HASIL TERAPI. Menurut GL, keberhasilan terapi intervensi bukanlah segala-galanya untuk stroke. Sekalipun semua persyaratan dipenuhi (tepat waktu, tepat indikasi, tepat obat), maka kesuksesan terapi hanya berkisar antara 40-45%. Apalagi kalau kondisi pasien tidak memenuhi syarat, maka tingkat kegagalan menjadi semakin besar.
Kelima, tentang METODE TERAPI BARU. Melalui penelitian-2 yang intensif, perkembangan ilmu kedokteran berlangsung sangat amat pesat. Hasilnya bukan saja ditemukan mekanisme baru bagaimana terjadinya suatu penyakit, tetapi juga ditemukan banyak sekali hal yang terkait dgn diagnosis, prevensi, terapi dan rehabilitasi penyakit. Penemuan metode terapi baru sangatlah lumrah di dunia kedokteran. Itu terkait dgn penemuan obat baru, prosedur baru dan hal terkait lainnya. Namun itu semua harus dilakukan melalui metode ilmiah yang ketat, mulai dari penelitian binatang hingga manusia. Harus jelas evidence based tentang manfaat dan bahayanya. Selain itu harus memperoleh pengakuan internasional sebelumnya. Biasanya itu didapat melalui publikasi ilmiah bertaraf internasional pula. Jadi sangatlah dilarang melakukan Metode Terapi Baru pada manusia tanpa melalui prosedur ilmiah tersebut diatas.
Keenam, tentang SOSIALISASI KE MASYARAKAT. Seorang dokter diperkenankan melakukan sosialisasi ilmunya ke masyarakat melalui berbagai media massa secara normative. Sosialisasi normative adalah sosialisasi yang didasarkan pada berbagai norma yang ada. Itu, misalnya norma ilmiah, norma etika, norma professional dan lain-lain. Norma ilmiah mensyaratkan bahwa apa yang disosialisasikan harus memenuhi standard ilmiah. Harus diterangkan secara jelas dan benar semua prosedur pengobatan yang dilakukan. Apa tujuannya, bagaimana prosedurnya, apa indikasi dan kontra indikasi, apa obat yang dipakai, seberapa besar keberhasilan dan kegagalan terapi, dan lainnya.
Ketujuh, tentang PERNYATAAN KE MASYARAKAT. Pada tayangan tentang Brain Spa di Metro TV, Jumat 16 Nopember 2012 ada statement sbb “Inilah satu-satunya metode baru di Indonesia, bahkan juga di dunia”. Ayat 4, Pedomen Umum, Etika Kedokteran Indonesia menyebutkan “Setiap dokter harus menghindari dari perbuatan yang bersifat memuji diri sendiri”.
Hadirin yang saya mulyakan Demikian analisis tentang BW, selebihnya silahkan hadirin menyimpulkannya sendiri. Agar stroke ditangani secara baik, saya menghimbau kepada Menkes untuk melakukan revisi tentang Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) IGD dengan memasukan neurologi didalamnya. Selain itu diperlukan Stroke Unit untuk untuk penanganan stroke secara optimal. Stroke Unit yang berfungsi baik, akan menurunkan morbidity and mortality rates. Namun karena length of stay lama, ada keengganan Rumah Sakit membuatnya. Takut akreditasinya turun. Hal semacam ini tentu merugikan pasien. Sebelum mengahkri sambutan, perkenankanlah saya menyampaikan selamat dan terima kasih kepada Panitia Pelaksana yang telah sukses menyelenggarakan PIN yang meriah. Selamat untuk para peserta semoga acara ini meningkatkan wawasan dan profesionalisme kita bersama. Mohon maaf sekiranya ada hal-hal yang tidak berkenan.
Wassalam, wr, wb

Prof. Dr. dr. Moh Hasan Machfoed, Sp.S(K), M.S
Ketua Umum PP Perdossi

    Print       Email
  • Published: 5 years ago on November 23, 2012
  • By:
  • Last Modified: September 1, 2014 @ 4:13 pm
  • Filed Under: Berita Organisasi

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You might also like...

Pelantikan Pengurus Cabang Malang

Read More →