Loading...
You are here:  Home  >  Others  >  Current Article

HATI-HATI NYETIR DIKALA NGANTUK

By   /  January 11, 2013  /  No Comments

    Print       Email

Oleh: Moh Hasan Machfoed *

Selasa (1/1/2013) pagi, mobil BMW putra bungsu Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, Muhammad Rasyid Amrullah Rajasa menabrak mobil Daihatsu Luxio dari belakang. Kecelakaan terjadi di ruas tol Jagorawi. Akibatnya, 2 orang penumpang Luxio tewas. Konon kabarnya kecepatan mobil Rasyid 140 km/jam dan diduga Rasyid sedang mengantuk. Pertanyannya, mengapa orang ngantuk bisa nyetir 140 km/jam?
Mekanisme tidur-bangun diatur otak melalui apa yang disebut Sleep-Wake Cycle (SWC) atau siklus tidur bangun. Siklus ini terdiri dari 2 sistim. Yang pertama disebut Wake-Generating System (WGS) atau sistim pembangkit bangun. Lainnya adalah Sleep-Promoting System (SPS) atau sistim mempermudah tidur. Keduanya memiliki jalur terpisah.
Daerah otak yang mengontrol keadaan bangun/waspada (alert) adalah Ascending Reticular Activating System (ARAS). Letaknya di batang otak. Dalam mengontrol keadaan bangun, ARAS tidak sendirian, tapi bekerjasama dgn bagian otak lain seperti talamus, hipotalamus and otak depan. Sebagai bagian dari WGS, ARAS bekerja 24 jam. Saat tidur, kerja ARAS dihambat oleh bagian otak yang disebut ventrolateral preoptic (VLPO). Interaksi antara VLPO dan ARAS adalah saling menghambat (mutually inhibiting). Fungsinya seperti saklar listrik “on-off”. Hal ini memungkinkan tubuh mempertahankan keadaan terjaga dan tidur. Ketika ARAS bekerja aktif saat bangun/terjaga, maka VLPO dihambat, tubuh jadi “on”. Sebaliknya, ketika VLPO bekerja aktif saat tidur, maka ARAS dihambat, tubuh jadi “off”.
Tidur adalah proses homeostasis (keseimbangan) untuk restoratif (pemulihan) tubuh. Bila terganggu, tidur memungkinkan tubuh untuk kembali ke keseimbangan semula. Misalnya kurang tidur cenderung akan diikuti oleh tidur sebagai kompensasi ekstra untuk menebus kerugian. Menebus kerugian tidur tidak harus dilakukan menit per menit. Bergadang semalam suntuk menyebabkan aktivasi ARAS meningkat yang akhirnya menyebabkan keletihan. Pada saat ARAS letih di pagi harinya, ganti VLPO yang aktif. Aktivasi VLPO ini tak lain menuntut jatahnya yang kurang karena dipakai ARAS semalam suntuk. Akibatnya orang itu akan terasa kantuk dipagi hari. Sebenarnya tuntutan VLPO untuk mengaktifkan tidur tidak harus dilakukan segera, masih bisa ditunda. Tergantung pada besarnya aktivitas fisik selama bergadang. Makin tinggi aktivitas fisik yang dilakukan menyebabkan aktivitas ARAS berlebihan. Aktivitas yang berlebihan menyebabkan ARAS makin letih dan makin lemah kontrolnya untuk tetap terjaga. Dilain pihak, lemahnya kontrol ARAS untuk tetap terjaga, menyebabkan makin tinggi tuntutan VLPO untuk mengontrol tidur. Pada kasus ini, terasa kantuk yang luar biasa.
Selain diatas, ada lagi mekanisme yang mengatur tidur-bangun. Namanya siklus tidur-bangun sirkadian. Bagian otak yang mengatur siklus ini adalah suprachiasmatic nucleus (SCN) di hipotalamus. SCN yang mengatur program sirkadian disebut “jam utama” (master clock) otak. Waktu sirkadian selama 24 jam, diatur oleh cahaya di siang hari dan oleh sekresi melatonin waktu gelap malam hari. Bergadang semalam suntuk akan mengacaukan siklus sirkadian. Malam hari yang mestinya tidur jadi terjaga/bangun. Pagi yang mestinya bangun jadi tertidur.
Berbeda dengan penggunaan narkotika. Selain menyebabkan rasa euforia (bahagia berlebihan), obat ini juga menyebabkan kantuk yang teramat sangat, mual, dan muntah. Itu terjadi setelah mengkonsumsi obat. Rasa kantuk timbul karena turunnya aktivitas ARAS dan meningkatnya aktivitas VLPO. Bergadang semalam suntuk apalagi ditambah konsumsi narkotika, menjadikan kantuknya tak ketulungan.
Menyetir mobil adalah akvitas motorik tubuh yang bersifat komplek. Disebut komplek karena aktivitas ini melibatkan kerjasama dari banyak bagian otak. Itu, antara lain kortek motoris (otak bagian depan), ARAS, prefrontal cortex (PFC), amigdala, hippocampus, basal ganglia, serebelum dan lainnya. Bila salah satu saja dari bagian otak ini tidak berfungsi baik, maka kerjasama akan kacau, apalagi kalau lebih dari satu.
Kortek motoris berfungsi menggerakan tangan untuk setir dan ganti porsneling, kaki untuk menginjak pedal gas/rem. PFC untuk mempertimbangkan perbuatan dan akibatnya. PFC terkait dengan kematangan emosional dan usia. Makin matang emosi dan usia, makin baik pula mengontrol emosi dan makin bijak/hati-hati melakukan sesuatu. Selain ikut serta mengontrol emosi, amigdala dan hippocampus berfungsi untuk menyimpan memori tentang ketrampilan menyetir mobil. Basal ganglia berfungsi untuk koordinasi dan memperhalus gerakan. Termasuk juga otomatisasi (gerakan tanpa dipikir) menyetir mobil. Serebelum atau otak kecil perlu untuk keseimbangan.
Kembali ke kasus Rasyid Rajasa. Bergadang semalam suntuk menyebabkan kontrol ARAS menurun drastis dan kontrol VLPO meningkat tajam. Akibatnya, pagi harinya mengalami kantuk luar biasa. Akibat selanjutnya adalah kurangnya perhatian dan kehati-hatian mengendarai mobil. Itu akibat dari kurang berfungsinya kerjasama semua bagian otak yang disebut diatas. Kondisi jalan tol yang lebar merangsang memacu mobil hingga 140 km/jam. Hal ini juga terkait dengan kematangan emosional. Penurunan aktivitas ARAS yang tajam, secara signifikan menurunkan fungsi PFC. Akibatnya, ada kekaburan mempertimbangkan perbuatan dan akibat yang terjadi. Demikianlah kira-kira analisis kecelakaan dari sudut pandang neurobiologi otak.

* Moh Hasan Machfoed
Guru Besar Neurologi FK Unair dan Ketua Umum PP Perdossi

    Print       Email
  • Published: 5 years ago on January 11, 2013
  • By:
  • Last Modified: September 1, 2014 @ 4:08 pm
  • Filed Under: Others

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You might also like...

Lagu Penutup Siaran RRI

Read More →