Loading...
You are here:  Home  >  Opinions Corner  >  Current Article

Sleep Apnea dan Kematian Anak Menteri Susi

By   /  January 21, 2016  /  Comments Off on Sleep Apnea dan Kematian Anak Menteri Susi

    Print       Email

Oleh : Moh Hasan Machfoed*

Tgl 18 Januari kemaren, Panji Hilmansyah (31 th), putra sulung Menteri Susi Pudjiastuti meninggal dunia tatkala sedang tidur di rumahnya. Keluarga menduga penyebab kematian almarhum adalah gagal jantung. Dugaan yang masuk akal, karena gagal jantung adalah salah satu penyebab kematian mendadak yang sering terjadi. Namun demikian ada beberapa hal yang tidak mendukung dugaan tersebut. Selama ini almarhum dikenal sehat, kondisi fisik baik, masih muda, dan sebelumnya tidak memiliki riwayat dan gejala penyakit jantung, seperti lemas dan mudah capek. Gejala penyakit jantung mudah dideteksi. Apalagi profesi almarhum sebagai pilot yang tentu melakukan test kesehatan secara teratur.
Ada satu penyakit yang dapat menyebabkan kematian mendadak tatkala tidur. Namanya Sleep apnea (SA). Karena jarang terjadi, maka namanya tidak setenar gagal jantung. SA ditandai oleh  terhenti nafas (apnea) saat tidur, yang dapat berlangsung selama beberapa detik hingga beberapa menit. SA termasuk kelompok penyakit perilaku psikologis tidak normal (abnormal psychological behavior) yang terjadi selama tidur. Ketika pernapasan berhenti, maka kadar oksigen turun dan carbon dioxide (CO2) menumpuk dalam darah. Keadaan ini dimonitor oleh chemoreceptors otak. Selanjutnya otak memberi signal agar orang tersebut bangun dari tidurnya untuk menghirup udara. Setelah bernapas, biasanya kadar oksigen kembali normal dan orang tersebut meneruskan tidurnya. SA dapat di diagnosis dgn alat yang disebut polysomnography.
Ada 3 macam SA: central SA (CSA), obstructive (OSA) dan campuran keduanya. CSA terjadi karena adanya gangguan pusat control pernafasan di otak selama tidur. OSA disebabkan oleh blokade jalan nafas, sering terjadi pada orang yang tidur mendengkur. National Institutes of Health, melaporkan sebanyak 12 juta orang Amerika menderita OSA. Sayangnya SA ini jarang diketahui karena tidak dilaporkan, bahkan penderita tidak menyadari bahwa dirinya memiliki SA. Saat bangun, penderita SA jarang mengalami gangguan nafas. Gejala SA justru diketahui orang lain, yang menyaksikan gejala tsb ketika penderita tidur.  SA dapat terjadi pada siapa saja tidak tergantung pada umur, jenis kelamin, dan ras. Namun factor resiko terjadinya  SA biasanya adalah pria, gemuk, memiliki leher besar, tonsil dan lidah besar, riwayat alergi, gangguan sinus, gangguan septum hidung yang menyebabkan obstruksi jalan nafas. Diabetes, merokok dan alcohol juga termasuk factor resiko.
OSA adalah penyakit gangguan pernafasan paling banyak dikala tidur. Selama tidur terjadi relaksasi otot tubuh. Pada saat itu,  otot tenggorokan sebagai saluran napas yamg terdiri dari jaringan lunak dapat menghambat pernapasan. SA yang terjadi pada orang yang mengalami  infeksi saluran pernapasan, biasanya bersifat ringan. Tapi apnea obstruktif  yang terjadi kronis, bisa jadi berat karena menyebabkan penurunan kadar oksigen darah (hipoksemia). Seseorang dgn tonus otot jalan nafas turun (misalnya karena kegemukan), dan gangguan structural lainnya dapat menyempitkan jalan nafas. Orang ini memiliki factor resiko terjadinya OSA. Orang tua lebih mudah terkena OSA dari pada orang muda, pria lebih sering OSA dibanding wanita atau anak. Gejala umum OSA adalah mendengkur keras, tidur gelisah, dan kantuk pada siang hari. Mendengkur adalah suara udara yang mengalami turbulensi, yang  bergerak melalui bagian belakang mulut, hidung, dan tenggorokan. Meskipun tidak semua orang  mendengkur mengalami kesulitan bernapas, namun bila mendengkur dikoombinasi dgn kondisi lain seperti kelebihan berat badan dan obesitas, hal itu sangat prediktif untuk terjadinya OSA. CSA lebih banyak terjadi pada pria tua lebih dari 65 tahun, memiliki gangguan jantung, stroke atau tumor otak. Tekanan darah tinggi juga sangat umum pada orang dengan CSA.
Terhentinya nafas yang kerap terjadi, akan diikuti oleh penurunan oksigenasi otak berkelanjutan, yang pada akhirnya merusak pusat control pernafasan otak, dan diakhiri oleh kematian. Pada kondisi ini, chemoreceptors otak tidak mampu lagi membangunkan penderita sebagaimana yang terjadi pada SA ringan.
Seandainya kematian almarhum karena SA, maka penyebab yang paling mungkin adalah OSA, bukan CSA. Ini lebih cocok dgn usia dan riwayat kesehatan almarhum. Dan penting diingat bahwa kematian karena gagal jantung bisa terjadi di sembarang waktu, sedang meninggal akibat SA hanya terjadi dikala tidur.

Dr. Moh Hasan Machfoed*
Dosen Neurologi
FK Unair /RSUD Dr. Soetomo Surabaya

    Print       Email
  • Published: 2 years ago on January 21, 2016
  • By:
  • Last Modified: January 21, 2016 @ 3:35 pm
  • Filed Under: Opinions Corner

You might also like...

Menilai Disertasi Metode Cuci Otak (Brain Washing)

Read More →