Loading...
You are here:  Home  >  Opinions Corner  >  Current Article

Kepribadian Jessica dan Kematian Wayan Mirna

By   /  February 4, 2016  /  Comments Off on Kepribadian Jessica dan Kematian Wayan Mirna

    Print       Email

Beberapa minggu terakhir ini, hingar bingar tentang siapa yang meracuni Wayan Mirna, menyita perhatian publik. Memang, kasus ini terbilang gampang-gampang sulit. Gampang-nya, si tersangka terbatas, bisa dihitung dgn jari. Sulitnya pada alat bukti. Karena itu  polisi harus bekerja ekstra hati-hati. Perlu waktu lama untuk menetapkan Jessica sbg tersangka. Tentu, nantinya ini masih harus dibuktikan di Pengadilan.

Seandainya saja, sekali lagi, ini seandainya ya, apabila nanti Pengadilan dapat membuktikan Jessica sbg pembunuhnya, maka ada hal menarik terkait kepribadian Jessica. Selama ini hanya dia dan pengacaranya yang sering nongol di media massa. Jessica menjawab semua pertanyaan dgn tenang, lancar, meyakinkan, percaya diri, dgn bibir yang selalu disungging senyum. Seakan tanpa dosa dan tidak sedikitpun tampak kesedihan telah kehilangan Myrna, sahabatnya itu. Karena itu publik meragukan dialah pelakunya. Sebenarnya, penampilan ini mengherankan dan mengundang tanya. Beda dgn Hani, teman minum kopi lainnya. Dia begitu shock dan jarang tampil di media. Kesedihan baru terbayang di wajah Jessica, ketika dia ditangkap polisi.

 

Kepribadian Psikopati

Padanan bahasa Inggris psikopati adalah psychopath. Psycho (jiwa) dan pathology (penyakit). Banyak definisi tentang ini, termasuk variasi gejalanya. Namun secara umum psikopati diartikan sebagai gangguan kepribadian yang ditandai oleh: (1) perilaku anti-sosial; (2) berkurangnya rasa empati; (3) berkurangnya rasa penyesalan; dan (4) perilaku sulit dikekang (disinhibited behaviour).

Dimensi personalitas psikopati bervariasi antara lain: impulsif; agresif; tendensi bermusuhan (hostile tendency); kurangnya sosialisasi; rendahnya tanggung jawab; tingginya  tingkat antagonism; rendahnya tingkat kesadaran (conscientiousness) dan kecemasan; serta kecendru- ngan mencari sensasi. Dlm perspektif psikoanalisis, psikopati dianggap sbg bagian dari spektrum narsisisme patologis,

Perilaku anti-sosial adalah tindakan yang merugikan kepentingan dan kesejahteraan orang lain. Perilaku berani psikopati ditandai oleh tingginya rasa percaya diri, tdk takut terhadap bahaya,  jarang merasa cemas, tahan terhadap stress, dan mudah mengabaikan sesuatu (feckless disregard).

Mereka sulit mengekang dorongan (impuls) terhadap sesuatu yang sudah direncanakan. Ada  dorongan untuk memuaskan kehendaknya dgn segera. Cuek dgn akibat perbuatannya, serta sulit mengekang perilaku buruk lainnya.

Kejam (meanness), ditandai oleh hilangnya rasa kasih sayang dan empati, bahkan terhadap orang terdekat sekalipun. Kekejaman ini digunakan untuk memperoleh kepuasan (satisfaction) dan rasa berdaya diri (empowerment). Cenderung bersifat eksploitatif, pembangkangan otoritas, dan mencari kegembiraan dgn cara merusak (destructive). Kekejaman ini disebabkan oleh kombinasi antara rasa berani, perilaku sulit dikekang dan faktor lingkungan yang merugikan (adverse environment).

Penyebab psikopati adalah genetik dan non-genetik, termasuk gangguan fungsi otak dan  interaksi lingkungan yang merugikan. Gangguan fungsi otak terjadi akibat konsleting di bagian otak yang disebut kortek pre frontalis, hipokampus dan amigdala. Lingkungan yang tdk baik, bisa berupa: memiliki orang tua yang dihukum, diabaikan secara fisik dan psikis oleh orang tua, rendahnya keterlibatan emosional orang tua, dan berasal dari keluarga berantakan (broken family). Faktor penting lainnya adalah: rendahnya pengawasan orang tua, disiplin keluarga berlebihan, kelas sosial rendah, dan orang tua dgn gangguan jiwa.

Dlm kesehariannya, ada 2 macam penampilan individu psikopati, yaitu: psikopati sukses dan gagal. Gambaran yang  sukses tak beda dgn orang biasa. Bahkan sebagian mereka menunjukan kecerdasan tinggi, kinerja bagus sehingga memiliki posisi penting di tempat kerja. Ini penampilan yang bisa menipu. Karena itu tdk mudah menentukan seseorang psikopati, bahkan oleh seorang expert sekalipun. Sifat buruk itu baru timbul berbarengan dgn munculnya perilaku negatif. Psikopat yang gagal mudah dikenali karena sering terlibat kejahatan dan kerap berurusan dgn hukum. Motivasi yang melandasi perbuatan psikopati kadang tdk jelas. Biasanya, terkait dgn masa lalu. Bisa karena sakit hati, dendam atau semacamnya.

Apakah Jessica memiliki perilaku psikopati spt dilukiskan diatas?? Hanya Pengadilan nanti yang mampu menjawabnya.

 

Dr. Moh Hasan Machfoed*

Dosen Neurologi

FK Unair /RSUD Dr. Soetomo Surabaya

    Print       Email
  • Published: 1 year ago on February 4, 2016
  • By:
  • Last Modified: February 4, 2016 @ 11:29 am
  • Filed Under: Opinions Corner

You might also like...

Menilai Disertasi Metode Cuci Otak (Brain Washing)

Read More →