Loading...
You are here:  Home  >  Opinions Corner  >  Current Article

Tentang Gegar Otak Setnov

By   /  December 4, 2017  /  Comments Off on Tentang Gegar Otak Setnov

    Print       Email

* Moh Hasan Machfoed

Kuasa hukum Ketua DPR Setya Novanto (Setnov), Fredrich Yunadi mengatakan kliennya sudah sadar setelah pingsan akibat gegar otak, usai mengalami kecelakaan. “Beliau udah siuman dan dirawat di RS Medika Permata Hijau Jakarta”, ujar Fredrich selanjutnya.

Gegar otak atau Traumatic Brain Injury (TBI), terjadi bila ada kerusakan otak akibat trauma dari luar, termasuk kecelakaan lalu lintas. Secara klinis, gegar otak diklasifikasikan berdasar berat ringannya gejala. Yang ringan, disebut komosio serebri dan berat, kontosio serebri. Gejala gegar otak ringan antara lain, penurunan kesadaran ringan, nyeri kepala, capek, enek, gangguan keseimbangan, mual, mumet, kebas, dll. Gejala emosi berupa: sedih, cemas, gelisah, emosi naik, mudah marah dan perubahan perilaku. Biasanya pasien cepat sembuh, segera siuman, dan gejala lainnya membaik. Pada gegar otak berat (kontosio ) hampir mirip dengan yang ringan (komosio) namun dengan gejala yang lebih berat. Ada penurunan kesadaran berat, nyeri kepala, gangguan emosi, gangguan perilaku juga lebih berat. Selain itu ditemukan juga gejala kejang dan gangguan ingatan yang disebut amnesia.

Amnesia terjadi karena defisit memori (ingatan), dimana gejalanya adalah lupa akibat trauma psikologis. Memori dapat hilang seluruhnya atau hanya sebagian. Ada dua jenis amnesia: retrograde dan anterograde. Amnesia retrograde adalah lupa terhadap kejadian sebelum kecelakaan. Amnesia anterograde adalah lupa terhadap kejadian sesudah kecelakaan. Amnesia sering ditemukan pada gegar otak berat dan jarang terjadi pada gegar otak ringan.
Setnov mengalami kecelakaan pada hari Kamis 16 Nop jam 19.00 akibat Fortuner yang ditumpangi menabrak tiang listrik. Kamis 16 Nop jam 22.57, Fredrich Yunadi mengatakan Setnov sudah sadar dari pingsan. Karena berlangsung selama kurang dari 4 jam (antara jam 19.00 – 22.57) , maka penurunan kesadaran Setnov sifatnya ringan. Hal itu juga dikuatkan dengan satu foto, terlihat Setnov tidur dengan sepotong perban di dahi kiri, tanpa luka memar di bagian kepala lainnya. Dengan demikian disimpulkan bahwa gegar otak yang dialami Setnov sifatnya ringan.

Chief Instructor Jakarta Defensive Driving Consulting (IDDC), Jusri Pulubuhu membeberkan sejumlah kejanggalan yang tampak dalam video kecelakaan Fortuner Setnov. “Melihat kerusakan mobil, patut diduga kecepatan mobil kurang dari 20 km/jam. Kerusakan mobil tidak parah. Asumsi bahwa mobil tidak dalam kecepatan tinggi saat kecelakaan makin kuat karena sekilas tidak tampak airbag yang mengembang”, ujar Jusri.

Sementara itu, pembalap nasional, Alexandra Asmasoebrata juga mencermati beberapa kejanggalan dari kecelakaan tersebut. “Tidak ada bekas pengereman. Dan, dilihat dari lingkungan sekitar TKP, jalanan tidak rusak, tidak juga terlihat ramai. Jadi, sebenarnya tidak ada alasan pengemudi harus bermanuver sampai mengakibatkan kecelakaan”, ujarnya. Lebih lanjut Alex mengatakan “Kalau tidak ngebut dan tidak ada bekas rem, pengemudi seharusnya bisa menghindari subyek di depannya. Tapi tidak tampak seperti itu.”

Melalui beberapa kejanggalan yang di beberkan, tampaknya Jusri dan Alex meragukan kecelakaan itu terjadi secara alami. Keraguan, bahkan ketidakpercayaan juga terjadi di ranah publik. Kecelakaan Setnov ramai di gunjing di medsos. Satu contoh yang disampaikan dr Teuku Adifitrian, Sp.BP alias dr Tompi, seperti berikut “Kl kepal kebentur, memar namun gak ada luka luar , trus diperban…. artinya dokternya perlu sekolah lagi. Dan dah pasti masuk neraka soalnya ikut2an ngibulL”. Cuitan ini mengundang reaksi warganet. Komentar tersebut sedikitnya telah ditanggapi 136 kali, dibagikan 1.200 kali, dan mendapat 786 likes. “Hahaha dokternya banyak drama..,” tulis seorang warganet pemilik akun @rinaseptiani456. Cuitan yang terjadi medsos itu menunjukan bahwa publik tidak percaya atas kecelakaan yang terjadi. Kasus amnesia atau lupa kadang terjadi di sidang pengadilan sehingga menyulitkan hakim. Setiap ditanya hakim, terdakwa selalu bilang lupa, lupa, lupa. Satu contoh menarik adalah sidang kasus suap cek pelawat yang melibatkan Nunun Nurbaeti, beberapa tahun yang lalu. Semoga hal ini tidak terjadi lagi pada kasus Setnov.

Untuk menilai apakah lupa ini bersifat pretending (pura-pura) atau sungguhan, maka KPK perlu
mengikut sertakan para ahli yang ada di Ikatan Dokter Indonesia (IDI).
*) Dosen Neurologi FK Unair

    Print       Email
  • Published: 1 week ago on December 4, 2017
  • By:
  • Last Modified: December 4, 2017 @ 5:09 am
  • Filed Under: Opinions Corner

You might also like...

Menilai Disertasi Metode Cuci Otak (Brain Washing)

Read More →